Edit

Tentang Kami

Student Research Center Revolution Atau Disingkat SRCR Merupakan UKM Penelitian dan Pers Fakultas Kedokteran Universitas Jember

Kontak Kami

 KHAWATIR PMS? KENALI DAN PAHAMI “SAFE SEX” DARI SUDUT PANDANG YANG BERBEDA

Kekhawatiran tentang penuruan standar moral  selama perang dunia menjadi fokus baru dalam pendidikan seksual. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan pergaulan bebas di antara kalangan muda dengan “godaan kesenangan tanpa memperhatikan masa depan”. Pada akhirnya, perkembangan pendidikan seksual secara eksplisit telah dilakukan sejak awal tahun 1940-an. Pendidikan seksual juga harus memberikan pendidikan moral dan pentingnya kehidupan keluarga. Selain itu, dengan adanya pendidikan seksual secara eksplisit akan meningkatkan pengetahuan tentang fisiologi dan keberishan sex sehingga dapat menurunkan kejadian penyakit kelamin.

Pendidikan seksual yang berpusat pada moralitas berkaitan dengan tanggung jawab masa depan keluarga dan negara. Dengan memberikan pengetahuan sederhana kepada kalangan muda tentang sistem reproduksi dan perubahan yang terjadi selama masa pubertas, mereka akan lebih mungkin melewati tahap itu dengan “kecemasan dan cedera pada kesehatan yang minimal” (Ewing, 1944 dalam HEJ, 2015). Sangat penting untuk mengajar kalangan muda bahwa perkembangan seksual berhubungan dengan pengasuhan dan tanggung jawab sebagai orang tua, juga dalam kehidupan keluarga.

Pada masa kini, dimana zaman sudah semakin berkembang, pendidikan seksual sangat dibutuhkan terutama pada kalangan remaja. Berdasarkan WHO, remaja adalah penduduk dengan rentang usia 10-19 tahun. Masa remaja adalah masa pencarian jati diri yang biasa ditandai dengan  tingkat keingintahuan yang tinggi. Kesehatan seksual sangat penting dipelajari untuk menghindari kehamilan remaja dan infeksi menular seksual. Sangat penting untuk mengetahui perilaku yang aman dalam berhubungan seksual.

Perilaku seksual adalah perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual. Bentuknya dapat bermacam-macam, mulai dari bergandengan tangan, berpelukan, bercumbu, petting, hingga berhubungan seks. Perilaku seks dapat dibagi menjadi dua, perilaku seks yang aman dan perilaku seks yang berisiko. Perilaku seks yang aman ialah suatu cara dalam melakukan aktivitas seks agar tidak terkena penyakit menular seksual (PMS). PMS adalah infeksi yang ditularkan dari satu orang ke orang lain selama aktivitas seksual. Semua orang yang melakukan seks oral, seks anal, seks vaginal, kontak kelamin kulit-ke-kulit, atau yang berbagi cairan seksual dengan orang lain bisa terkena PMS.

Meskipun disebut perilaku seks yang aman, tetap membawa beberapa risiko terkena PMS. Namun jauh lebih baik daripada tidak menerapkan perilaku seks yang aman. Beberapa jenis berhubungan seks yang aman:

  1. Menggunakan Kondom pada saat melakukan hubungan sex
  2. Menggunakan pelicin yang berbahan dasar air
  3. Melakukan hubungan seks tanpa penetrasi (contoh: ciuman)
  4. Melakukan hubungan seks dengan pasangan yang saling setia

Terdapat persepsi yang berbeda tentang berciuman dan penggunaan kondom. Berciuman dianggap sebagai aktivitas yang aman, tetapi herpes dapat menyebar dengan cara ini. Kondom biasanya dianggap melindungi dari infeksi menular seksual (IMS) jika penggunaannya benar dan konsisten. Kondom membantu mencegah penyakit tertentu, seperti klamidia dan gonorrhea. Tetapi mungkin tidak sepenuhnya melindungi dari penyakit lain, seperti kutil kelamin, herpes, dan sifilis.

Membatasi aktivitas seksual hanya pada 1 pasangan membantu mengurangi paparan organisme penyebab penyakit. Beberapa pedoman untuk berhubungan seks yang lebih aman dan memungkinkan untuk terhindar dari PMS:

  1. Berpikir dua kali sebelum memulai hubungan seksual dengan pasangan baru. Pertama, diskusikan masa lalu pasangan, riwayat IMS, dan penggunaan narkoba. Penggunaan narkoba dan alkohol yang terlalu banyak akan meningkatkan perilaku seks yang berisiko sehingga kemungkinan terjadinya PMS juga akan meningkat.
  2. CDC merekomendasikan agar kondom lateks, dengan atau tanpa spermisida, digunakan untuk membantu mencegah penularan IMS. Ini termasuk HIV yang ditularkan secara seksual. Kondom pria sebaiknya terbuat dari lateks atau poliuretan — bukan bahan alami. Polyurethane harus digunakan hanya jika pengguna memiliki alergi lateks. Kondom wanita terbuat dari poliuretan.
  3. Untuk seks oral, bantu lindungi mulut dengan meminta pasangan menggunakan dental dams (pria atau wanita).
  4. Wanita tidak boleh melakukan douche setelah berhubungan. Douche tidak melindungi dari IMS, tetapi bisa menyebarkan infeksi lebih jauh ke dalam saluran reproduksi. Ini juga dapat menghilangkan perlindungan spermisida.
  5. Temui penyedia layanan kesehatan untuk tes Pap reguler (jika lebih tua dari usia 21), pemeriksaan panggul, dan tes PMS secara berkala. Kebanyakan orang dengan PMS tidak menunjukkan gejala dan sering tidak tahu bahwa sudah terinfeksi. Jika sudah terinfeksi maka dengan mudah menularkan PMS ke pasanganannya. Dengan melakukan pengujian secara berkala, jika terbukti seseorang menderita PMS, akan mendapatkan pengobatan yang tepat untuk menghindari menularkannya ke orang lain.
  6. Waspadai tubuh pasangan. Perhatikan tanda-tanda luka, lepuh, ruam, atau cairan yang keluar.
  7. Periksa tubuh sesering mungkin untuk mencari tanda-tanda luka, lepuh, ruam, atau keluarnya cairan.
  8. Pertimbangkan aktivitas seksual selain hubungan seks vaginal, oral, atau anal. Ini adalah teknik yang tidak melibatkan pertukaran cairan tubuh atau kontak antara selaput lendir.
  9. Jika menyentuh alat kelamin pasangan dengan tangan, cuci tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh alat kelamin, mulut, atau mata diri sendiri untuk menghindari keluarnya cairan seksual. Jika menggunakan mainan seks, pastikan untuk mencuci mainan tersebut dengan sabun dan air sebelum menyentuh tubuh orang lain. Selain itu, gunakan kondom pada mainan seks, ganti kondom sebelum menyentuh tubuh orang lain.

Cara terbaik untuk menghindarkan diri dari PMS dengan tidak melakukan kontak seksual apapun dengan orang lain. Namun mengingat aktivitas seksual adalah hasil dari dorongan dalam diri seseorang, hal ini tidak dapat dilakukan kecuali seseorang tersebut memutuskan untuk hidup sendiri (selibat). Maka untuk menghindarkan diri dari PMS, yang paling mungkin dilakukan dengan menerapkan perilaku seks yang aman dan mengikuti pedoman di atas.

Ditulis oleh : Cindy Graciella

DAFTAR PUSTAKA

Gaya Warna Lentera – Indonesia, 2016. Buku Kesehatan dan Hak Seksual serta Reproduksi GWL. [Online]. https://www.gwl-ina.or.id/buku-kesehatan-dan-hak-seksual-serta-reproduksi-remaja-gwl/ [Diakses 20 November 2020].

Iyer, P. & Aggleton, P., 2015. Seventy Years of Sex Education in Health Education Journal: a Critical Review. Health Education Journal, 74(1), pp. 3-15.

Lestari, M. D. & dkk, 2016. Bahan Ajar Psikologi Seksual. Denpasar: Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Planned Parenthood, t.thn. Safer Sex. [Online]. https://www.plannedparenthood.org/learn/stds-hiv-safer-sex/safer-sex [Diakses 21 November 2020].

University of Rochester Medical Center Rochester, t.thn. Safer Sex Guidelines for Teen. [Online]. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=90&contentid=P01645 [Diakses 21 Novemmber 2020].

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *